Saat Impianku Bersekolah Kandas di Tengah Jalan

Kode Iklan Anda di sini
Di kelas aku termasuk murid yang pandai. Banyak guru yang menyukaiku, demikian juga teman-temanku. Setiap ada mata pelajaran yang sulit seperti Matematika dan Fisika, aku sering menjadi incaran teman-temanku untuk bertanya dan meminta diajari. Namun ada kendala yang aku alami, yaitu dana atau biaya sekolah.


Saat itu belum ada bantuan Pemerintah untuk pendidikan seperti sekarang. Aku bisa melanjutkan sekolah dari SD ke SMP bukan karena adanya Beasiswa atau Dana BOS, melainkan dari usaha orangtuaku yang datang menemui Kepala Desa untuk minta dibuatkan Surat Keterangan Tidak Mampu, sehingga aku bisa masuk SMP tanpa membayar Uang Gedung dan SPP. 

Meski aku selalu menjadi bintang kelas dari kelas 2 hingga kelas 6 SD, tak ada dana bantuan apapun waktu itu meski untuk siswa berprestasi sekalipun. Aku hanya pernah mendapatkan sebuah bingkisan berupa Kaos Olahraga saat aku berhasil menjawab pertanyaan seorang juru kampanye sebuah sekolah SMP Swasta, yang melakukan promosi atau pengenalan tentang SMP tersebut di sekolahku.


Begitu juga saat aku lulus SD dengan peringkat NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi, tak ada apapun yang diberikan baik dari pihak Sekolah maupun Pemerintah Waktu itu untuk meringankan biaya sekolahku. Akhirnya dengan hanya bermodal keberanian, aku dan orangtuaku menemui Kepala Desa atau Kuwu di Kampungku untuk meminta Surat Keterangan Tidak Mampu yang bisa aku gunakan untuk meminta keringanan biaya sekolah.

Dengan Surat Keterangan Tidak Mampu itu, aku bisa mendapatkan keringanan biaya berupa pembebasan Uang Gedung dan SPP selama 1 tahun, artinya aku harus kembali meminta Surat Keterangan Tidak Mampu tersebut ke Kepala Desa dan menyerahkannya ke pihak sekolah saat aku naik ke kelas 2 dan 3 SMP.

Hari-hari itu sungguh berat kujalani. Aku tak bisa lepas memikirkan kondisi keuangan keluargaku yang jauh dari cukup. Pernah suatu hari, ibu harus menjual stock beras yang kami punya agar aku bisa membeli buku pelajaran. Sungguh ironis dan tragis. Sejak saat itu aku tak pernah lagi meminta dibelikan buku pelajaran.

Sebagai gantinya, aku lebih sering meminjam buku pelajaran teman untuk aku salin di rumah. Karena sebagian besar para guru di sekolahku itu menggunakan buku pelajaran dan jarang menulis di papan tulis, aku mulai kewalahan menyalin setiap mata pelajaran. Saat itu aku sudah duduk di kelas 2 SMP dengan peringkat 3 terbaik, turun dari prestasi di kelas 1 SMP dimana aku memegang rangking atau peringkat 1 di kelasku.

Di kelas 3 aku mulai sering tak bisa konsentrasi, peringkatku juga turun ke peringkat 4 sampai semester 2. Di semester 3, peringkatku turun lagi hingga ke peringkat 5 dan akhirnya lulus dengan nilai NEM 34,80. 

Banyak orang yang menganjurkan agar aku meneruskan sekolah ke SMA, namun saat itu aku benar-benar tak punya keinginan lagi untuk melanjutkan sekolah, apalagi jika melihat kondisi keuangan keluargaku. Sampai saat itulah, impianku bersekolah kandas di tengah jalan. Impianku kandas dan benar-benar hilang.

Perasaanku saat itu hanyalah marah dan kecewa, tapi aku berusaha melupakannya dengan mengisi waktuku dengan bekerja di tempat pamanku. Dari sanalah aku mendapat gagasan bahwa kesuksesan tak selalu dihasilkan dari bangku sekolah. Akupun kembali belajar, tapi tidak melalui bangku sekolah. Aku membeli banyak buku bacaan dari uang hasil kerjaku. Tuhan telah membantuku menjadi tahu banyak hal dengan cara lain yang sempurna.

Sahabat remaja juga bisa membaca artikel : Cintaku untuk Puput Akhirnya Kuberikan Kepada Kakaknya

Pengalaman ini aku tuliskan di Dawai Remaja untuk memotivasi teman-teman remaja yang saat ini masih bisa bersekolah agar tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sangat mungkin, di berbagai pelosok negeri ini, masih banyak anak-anak sepertiku yang tak bisa melanjutkan sekolah dan harus kandas impiannya bersekolah karena masalah biaya dan hal lainnya. Semoga bermanfaat.
Kode Iklan Anda di sini

Related Posts:

Terima kasih telah membaca artikel di DuniaRemaja.xyz. Silahkan tinggalkan komentar sahabat. Komentar berisi link dan promosi produk tidak akan ditampilkan.

Back To Top